Feed on
Posts
Comments

23-08-06_0832.jpg23-08-06_0828.jpg04-04-07_0913.jpgpengujian-generator.jpggenerator-dc.jpg

transmisi-menggunakan-roda-gigi.jpgprototipe-skea-dengan-windside.jpganemometer vortex dengan data loggingmodifikasi-alternator-dengan-lilitan-stator-2x.jpg

prototipe-skea-dengan-savonius.jpg crim0186.jpgpemasangan-generator-dc.jpg

Abstrak

Tingginya kebutuhan migas yang tidak diimbangi oleh kapasitas produksinya menyebabkan kelangkaan bahan sehingga terjadi kenaikan harga. Pemerintah maupun swasta di hampir semua negara kemudian berpacu untuk membangkitkan energi dari sumber-sumber energi baru dan terbarukan dalam mempertahankan ketahanan energi negaranya. Salah satu sumber energi terbarukan yang dipilih adalah energi angin.

Sistem Konversi Energi Angin (SKEA) berperan dalam mengubah energi angin menjadi energi primer yang dapat dikonsumsi masyarakat. Sistem konversi energi angin dapat beroperasi pada kecepatan angin alam yang tinggi ataupun dengan memanfaatkan angin yang diakibatkan oleh kendaraan yang melintas di jalan tol.

Penelitian ini merancang, membuat dan menguji prototipe SKEA menggunakan rotor savonius dan windside untuk ditempatkan di median jalan tol. SKEA ini berperan menghasilkan energi listrik untuk kebutuhan penerangan jalan tol sekaligus menggantikan fungsi pelat penghalang lampu kendaraan di median jalan tol.

Penelitian ini mengusulkan beragam alternatif rotor, sistem transmisi dan generator untuk kemudian mengujinya. Alternatif SKEA yang dipilih sebagai prototipe terdiri dari rotor savonius L berdiameter penutup 82 cm dan tinggi 1 meter, transmisi roda gigi dengan rasio 1:3 dan generator DC. Prototipe sistem konversi energi angin yang dipilih telah mampu menghasilkan daya listrik. Tegangan keluarannya 5 – 7 volt arus searah pada kecepatan angin 5 m/s. Prototipe sistem konversi energi angin yang dipilih baru mampu menghasilkan tegangan untuk melakukan pengisian ulang pada batere 6 volt.

Kata kunci: ketahanan energi, energi terbarukan, angin kecepatan rendah, savonius, windside.

prototype-skea.pdf

 

 

Preliminary Study on Using Savonius Wind Turbin
for Highway Illumination

 

 

T.A.F. Soelaiman, N.P. Tandian, N. Rosidin and J. K. Purba

 

Abstract

This paper studies the potential on using an alternative energy source for highway illumination and/or remote communication to be used in locations far from energy sources or electricity. Although a photovoltaic is a common alternative, this method may not be useful if no sun is available for days. Another source of energy that maybe used is a wind turbine with its movement is due to the movement of the vehicles on the highway and helped by the natural wind occuring at the location.

Knowing that the wind may blow at low speed, near the ground and in a narrow site, a vertical wind turbine known as Savonius turbine is chosen. The use of Savonius turbine in the median of the highway also has another function that is replacing the plates used to block vehicle lights from vehicles at the opposite direction.

For a prototype, a Savonius turbine was designed with 750 mm in height, and 320 mm in diameter. Aluminium was used as the material, a V-belt and pulleys were used for transmission, an alternator as the electricity generator, and a battery for the energy storage.

The system has been tested and the results of this test showed that the output voltage of the alternator is 6 to 16.12 volt with 0.32 to 12.15 ampere current.

Keywords: Savonius turbine, wind energy, light blocker, highway.

 

Perancangan, Pembuatan dan Pengujian

Prototipe SKEA Menggunakan Rotor Savonius dan Windside

untuk Penerangan Jalan Tol

T.A. Fauzi Soelaiman, Nathanael P. Tandian, dan Nanang Rosidin

Abstrak

Tingginya kebutuhan migas yang tidak diimbangi oleh kapasitas produksinya menyebabkan kelangkaan bahan bakar migas sehingga terjadi kenaikan harga. Pemerintah maupun swasta di hampir semua negara kemudian berpacu untuk membangkitkan energi dari sumber-sumber energi baru dan terbarukan untuk menjaga ketahanan energi negaranya. Salah satu sumber energi terbarukan yang dipilih adalah energi angin.

Berdasarkan data LAPAN, angin di Indonesia memiliki kecepatan yang bervariatif, umumnya terkategorikan sebagai angin berkecepatan rendah. Penelitian sistem konversi energi angin (SKEA) kecepatan rendah belum banyak dilakukan di Indonesia, padahal ada beberapa lokasi yang mempunyai angin berkecepatan rendah secara kontinu untuk digunakan sebagai penerangan misalnya di jalan tol. Angin di jalan tol merupakan gabungan dari angin alami dan angin yang ditimbulkan oleh kendaraan yang melintas. Selain itu, sistem konversi energi angin yang dibuat dapat menggantikan fungsi pelat penghalang sinar lampu di median jalan tol ini.

Dalam makalah ini dibahas proses perancangan empat buah prototipe rotor turbin angin vertikal beserta filosofi perancangannya serta pengujian keempat prototipe rotor tersebut. Jenis rotor yang dirancang dan diuji adalah jenis rotor Savonius U, Savonius L, Windside Kecil dan Windside Besar. Dengan menggunakan alat ukur anemometer dan tachometer, kecepatan angin dan kecepatan rotor turbin diukur, lalu hasilnya dibandingkan. Berdasarkan hasil pengujian terhadap keempat prototipe rotor yang dikembangkan, rotor Savonius L dengan diameter penutup 82 cm dan tinggi 1 meter dipilih sebagai prototipe rotor SKEA yang paling baik untuk dilakukan pengujian selanjutnya.

Kata kunci: turbin angin, angin kecepatan rendah, jalan tol, Savonius, Windside.

paper-turbin-angin-lengkap-d.pdf

 

Perancangan, Pembuatan dan Pengujian Prototipe SKEA

Menggunakan Rotor Savonius dan Windside untuk Penerangan Jalan Tol

 

Kebutuhan energi dunia yang semakin meningkat sudah tidak mampu lagi dipenuhi oleh sumber energi konvensional berupa migas. Cadangan migas terbatas, oleh karena itu, karena tingginya permintaan maka terjadi lonjakan harga dan kelangkaan bahan. Pemerintah maupun swasta di hampir semua negara kemudian berpacu untuk membangkitkan energi dari sumber energi baru dan terbarukan dalam mempertahankan ketahanan energi negaranya. Salah satu sumber energi yang menjadi favorit adalah energi angin.

Sistem konversi energi angin berperan dalam mengubah energi angin menjadi energi primer yang dapat dikonsumsi masyarakat. Sistem konversi energi angin dapat beroperasi pada kecepatan angin alam yang tinggi ataupun dengan memanfaatkan angin yang diakibatkan oleh kendaraan yang melintas di jalan tol.

Penelitian ini merancang, membuat dan menguji prototipe sistem konversi energi angin menggunakan rotor savonius dan windside untuk ditempatkan di median jalan tol. Sistem konversi energi angin ini berperan menghasilkan energi listrik untuk kebutuhan penerangan jalan tol sekaligus menggantikan fungsi pelat penghalang lampu kendaraan di median jalan tol.

Penelitian ini mengusulkan beragam alternatif rotor, sistem transmisi dan generator untuk kemudian mengujinya. Alternatif sistem konversi energi angin yang dipilih sebagai prototipe terdiri dari rotor savonius terbuka berdiameter penutup 82 cm dan tinggi 1 meter, transmisi roda gigi dengan rasio 1:3 dan generator DC.


Prototipe sistem konversi energi angin yang dipilih telah mampu menghasilkan daya listrik. Tegangan keluarannya 5 – 7 volt arus searah pada kecepatan angin 5 m/s. Prototipe sistem konversi energi angin yang dipilih baru mampu menghasilkan tegangan untuk melakukan pengisian ulang pada batere 6 volt.

RI Gagal Lewati Krisis Minyak?

JAKARTA, (PR 23 Oktober 2007).-
Indonesia terancam tidak bisa lulus melewati krisis harga minyak dunia. Sebab, dari tiga kriteria negara yang sukses melewati krisis harga minyak, Indonesia tidak memenuhi satu kriteria pun. Hal itu dikemukakan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, dalam jumpa pers di kantor Departemen ESDM, Jakarta, Senin (22/10).

Purnomo menjelaskan ketiga kriteria tersebut. Pertama, negara yang sudah menerapkan kebijakan mekanisme pasar untuk penjualan BBM. Artinya, tidak ada lagi mekanisme subsidi BBM yang membebani pemerintah. “Lihat saja Jepang, yang tidak pernah mengeluh dengan harga minyak karena dia pakai mekanisme pasar,” katanya.

Kedua, negara yang sudah menerapkan efisiensi energi. Salah satu bentuk nyatanya adalah tidak adanya subsidi listrik. Saat ini, subsidi listrik pun masih dinikmati masyarakat Indonesia, baik yang kaya maupun yang miskin. Menurut dia, masyarakat mampu cenderung boros menggunakan listrik karena merasa mampu membayar. Sama sekali tidak terjadi efisiensi. Bahkan, pertumbuhan penjualan listrik sama sekali tak bisa ditahan.

Ketiga, negara yang sudah menerapkan energi alternatif seperti biofuel, misalnya Brasil yang sudah menggunakan biofuel untuk berbagai keperluan.

Menurut Purnomo, Indonesia masih jauh dari sukses mengembangkan energi alternatif. Indonesia bahkan bisa dikatakan masih ”bayi” dalam hal ini, karena target Indonesia sampai 2010 masih di tataran luas wilayah yang digunakan untuk penanaman biofuel, yaitu 5,25 juta hektare.

“Itu baru sektor hulu. Belum hilir. Butuh waktu agar hasil di hilir bisa dirasakan,” kata Wakil Ketua Timnas BBM Evita Legowo.

Purnomo hanya menegaskan, kondisi ini bisa berubah jika Indonesia berani menerapkan kebijakan di sisi permintaan. “Namun, ini akan sulit, karena harga BBM subsidi tidak akan berubah sampai 2009. Itu janjinya,” ujarnya tegas.

Krisis harga minyak pernah terjadi pada tahun 1970-an saat terjadi perang Irak dan Israel. Lalu terjadi lagi pada 1980-an saat terjadi perang Irak dan Iran. Terakhir terjadi pada 2004, setelah kejadian runtuhnya WTC pada 11 September yang diikuti invasi AS ke Irak. Dan pada tahun 2005, krisis minyak kembali terjadi seiring munculnya badai Katrina.

Segera putuskan

Sementara itu, kalangan industri mendesak pemerintah agar segera memutuskan strategi energi alternatif untuk kalangan industri, agar mereka tak selalu direpotkan dengan dampak kenaikan harga minyak dunia yang berfluktuasi.

“Selama industri kita sangat tergantung kepada bahan bakar minyak (BBM), berarti industri kita akan terus direpotkan dengan biaya produksi, karena minyak dunia memang akan terus berfluktuasi. Dalam kondisi tersebut, mana mungkin industri kita bisa memikirkan daya saing,” ujar Ketua Kadin Jabar Iwan Dermawan Hanafi di Bandung, Senin (22/10), menanggapi rencana kenaikan BBM industri sebesar Rp 200,00.

Tingginya harga minyak dunia yang sempat menembus 90 dolar AS per barel, berimbas pada harga minyak industri dan nonsubsidi.

Untuk bulan November mendatang, Pertamina akan menaikkan harga minyak industri dan nonsubsidi kira-kira Rp 200,00 per liter.

“Semua jenis bahan bakar minyak untuk industri seperti premium, solar, minyak tanah, serta pertamax akan mengalami penyesuaian. Persentasenya belum ditetapkan, tetapi mungkin sekitar Rp 200,00 per liter,” ujar Dirut Pertamina Ari Sumarsono di sela-sela halalbihalal di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Senin (22/10).

Kenaikan harga minyak dunia memang baru akan berpengaruh pada harga BBM bulan November dan Desember mendatang. Sebab, kenaikan harga minyak ini untuk pengantaran November dan Desember. “Karena kalau yang sekarang kan masih pakai stok yang di kilang,” kata Ari Sumarsono.

Menurut Iwan Dermawan, jika memang benar bulan depan akan terjadi kenaikan BBM industri Rp 200,00 per liter, bukan alasan untuk berpangku tangan karena harga minyak dunia akan terus berfluktuasi, dengan lonjakan harga yang tidak bisa diperkirakan. Artinya, berbagai dampaknya tetap akan sulit ditangani oleh industri.

Iwan mengatakan, beberapa skema energi alternatif, sebenarnya sudah pernah disosialisasikan. Namun, entah mengapa belakangan tak jelas kelanjutan programnya. Iwan mencontohkan minyak jarak, sebelumnya ada wacana hasil pengolahan minyak jarak akan ditampung oleh Pertamina. Namun, pada saat ada yang membuat minyak jarak, mereka tetap kebingungan ke mana menjualnya.

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Pasundan, Acuviarta mengatakan, sekalipun kenaikannya hanya Rp 200,00, hal itu menunjukkan kekurangkonsistenan pemerintah, yang sebelumnya telah menyatakan akan mengamankan dampak kenaikan harga minyak dunia.

“Kenaikan Rp 200,00 atau sekitar 3%-an itu, akan memberatkan industri kita. Karena dengan dampak kenaikan BBM tahun 2005 saja, masih banyak industri yang belum bisa memulihkan diri, sekarang sudah akan dihadapkan dengan kenaikan harga BBM lagi,” katanya.

Pernyataan Dirut Pertamina juga dinilai Acuviarta sebagai sikap ketakutan Pertamina terhadap tren kenaikan harga minyak dunia. Karena, sebelumnya Pertamina sudah menyatakan kenaikan yang terjadi hanya siklus biasa, yang bersifat sementara dan akan kembali normal.

“Kalau yakin ini merupakan siklus biasa, artinya ada kemungkinan turun, kok belum-belum sudah mengumumkan kenaikan. Ini artinya, Pertamina keder dengan situasi yang berlangsung. Dan saya kira pada saatnya kenaikan akan lebih besar dari Rp 200,00 per liter,” katanya.

Amankan APBN

Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta perkembangan harga minyak dunia diwaspadai, terutama pengaruhnya terhadap berbagai komoditas ekspor kita. Demikian diungkapkan Menko Perekonomian Boediono dan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro usai melaporkan perkembangan ekonomi dunia kepada Presiden, di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (22/10).

“Pastinya nanti ada dampak pada pertumbuhan ekonomi kita. Intinya, kita akan tetap mewaspadai dan APBN merupakan jangkar kestabilan ekonomi dari setiap negara. Karena itu kita akan mengamankan situasi APBN tahun ini ataupun tahun depan,” kata Boediono.

Boediono menuturkan, pemanggilan dirinya dan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro karena Presiden ingin meminta penjelasan dan perkembangan mengenai perkembangan ekonomi global. Presiden meminta untuk mewaspadai kenaikan harga minyak dunia dan dampak yang ditimbulkannya bagi Indonesia. Contohnya, pengaruh terhadap harga barang-barang ekspor, seperti komoditas pertambangan, pertanian, dan gas.

“Pengaruh yang positif dalam pertumbuhan ekonomi global saat ini pada neraca pembayaran maupun ekonomi kita. Tetapi di sisi lain ada dampak yang perlu kita waspadai, yaitu peningkatan subsidi. Kalau harga minyak meningkat, ini tentunya kita perlu waspadai dampak terhadap industri dalam negeri, terhadap cost yang meningkat,” ungkap Boediono.

Boediono optimistis kondisi perekonomian tahun 2007 masih bisa dikelola dengan baik jika harga minyak masih dalam range sekarang ini. Sementara itu, pemerintah akan melihat perkembangan harga minyak dan ekonomi global untuk tahun mendatang. “Secara umum kita tetap optimistis tingkat pertumbuhan ekonomi tahun ini masih bisa dicapai,” kata Boediono.

Boediono berharap ekonomi global tidak turun terlalu parah tahun 2008, sehingga target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6,8 persen masih bisa dicapai. “Kalau tidak, artinya ekonomi global itu turun lebih dari yang kita perkirakan. Pastinya nanti ada dampak pada pertumbuhan ekonomi kita,” ungkapnya. (A-130/A-135)***